oleh

Danlantamal V Hadiri Upacara Hari Dharma Samudera di Geladak KRI Makassar-590

PB|Surabaya – Komandan Pangkalan Utama TNI AL (Danlantamal V) Laksamana Pertama TNI Edi Sucipto, S.E., didampingi Ketua Korcab V Daerah Jalasenastri Armada Timur Ny. Herniwati Edi Sucipto menghadiri upacara dan tabur bunga dalam rangka memperingati hari Dharma Sumudera tahun 2017 yang digelar di atas geladak hely KRI Makassar-590 di Dermaga Madura, Ujung, Koarmatim Surabaya, Minggu (15/1).

Peringatan hari Dharma Samudara kali ini, dipimpin Inspektur Upacara Kepala Staf Armada Timur (Kasarmatim) Laksamana Pertama TNI ING. Ariawan. Tampak hadir pula Komandan Guspurlatim, para Asisten Pangarmatim, Para Dansat dijajaran Koarmatim, Para Asisten danlantamal V dan tamu undangan lainnya.

Seluruh rangkaian upacara tabur bunga ini di bawah satu komando, Komandan Upacara Letkol Laut (T) Ariyadi, S. E. yang merupakan Komandan Tim Intelijen Lantamal V. Sementara itu pasukan upacara terdiri dari peleton Pama, peleton Bintara, peleton Tamtama, peleton Marinir (Yonmarhanlan V), peleton PNS, peleton SMK-KAL. Upacara tersebut akan dihadiri pula para pejabat Pangkotama TNI AL Wilayah Surabaya dan  SKPD Jatim.

Setelah acara tabur bunga usai, acara dilanjutkan dengan pemberian tali asih kepada pelaku sejarah pertempuran Laut Aru beserta keluarganya, diantaranya Ibu Sumaryah (76) Warakawuri dari Peltu Nyoman Tjang, Pelda Purn Andrian (78), Ibu Trisnawati (75) Warakawuri dari Peltu Suharmadji, Pelda Purn Soeparman (75), Ibu Sufiah (100) Ibu kandung dari Kls Ngadi, Ibu S. Hamzah (74) Warakawuri dari Serka Purn M. Saleh. Selain Upacara tabur bunga di KRI, upacara parade Hari Dharma Samudra tahun 2017 juga di Gelar di Monumen Yos Sudarso yang berlokasi di Kodiklatal; dengan Irup Komandan Kodiklatal Lakda TNI Tri Wahyudi.

Menurut Kasarmatim dihadapan para wartawan usai pelaksanaan upacara mengatakan bahwa Hari Dharma Samudera ini diperingati setiap tanggal 15 Januari, kegiatan itu merupakan upacara untuk mengenang peristiwa heroik yang terjadi di Laut Aru pada 15 Januari 1962 silam.

Pertempuran Laut Aru yang terjadi pada tanggal 15 Januari 1962 ini, mengisahkan heroisme KRI Macan Tutul dalam menjalankan tugas Trikora. Dalam pertempuran itu, KRI Macan Tutul yang ditumpangi Komodor Yos Sudarso harus tenggelam setelah terjebak dalam kepungan pesawat dan kapal-kapal Destroyer Belanda.

Pertempuran itu sungguh heroik, meskipun saat itu kita hanya memiliki misi pendaratan ke selatan Kaimana, tentunya kita hanya minim torpedo yang dibawa, KRI Macan Tutul yang melakukan patroli sekaligus misi pendaratan bagi sukarelawan asal Irian ke Kaimana itu berangkat bersama KRI Macan Kumbang dan KRI Harimau, 3 kapal cepat torpedo yang dimiliki ALRI pada masa itu. Misi itu merupakan bagian dari Operasi Trikora yang didengungkan oleh Bung Karno pada 19 Desember 1961. Isi seruan itu ialah kibarkan Sang saka marah putih di Irian, Gagalkan pembentukan negara boneka Papua oleh Belanda, dan bersiaplah untuk mobilisasi umum guna menjaga persatuan dan kesatuan.

KRI Macan Tutul sudah membawa bendera merah putih untuk dibawa oleh sukarelawan agar ditancapkan ke Irian, selain itu sudah bersiap juga mengambil segenggam tanah Irian untuk dibawa ke pimpinan ALRI sebagai bukti pendaratan. Sebelum KRI Macan Tutul menjalankan tugas itu, pesawat dan kapal Destroyer Belanda telah mengetahui iring-iringan tersebut. Komodor Yos Sudarso yang dalam peristiwa itu menjabat sebagai Asops akhirnya mengambil tindakan untuk melakukan perlawanan kepada kapal-kapal Belanda itu demi menyelamatkan 2 kapal kita lainnya. Pertempuran sengit sempat terjadi, Komodor Yos Sudarso segera memerintahkan serangan tembakan balasan. Dengan tindakan seperti itu maka tembakan musuh terpusat pada KRI Macan Tutul.

Jadi ketika tanda lampu dihidupkan oleh kapal Belanda dan kemudian melakukan pengejaran kepada iring-iringan ini, KRI Macan Tutul melakukan zig-zag agar dua kapal lainnya dapat lolos. Selain itu juga melakukan tembakan, namun karena terkepung dengan tiga Destroyer Belanda akhirnya KRI Macan Tutul terkena torpedo bertubi-tubi hingga tenggelam.

Melalui Radio Telefoni, Yos Sudarso menyampaikan pesan tempurnya “Kobarkan Semangat Pertempuran” sesaat sebelum KRI Macan Tutul tenggelam. Akhirnya Yos Sudarso beserta 25 awak kapal gugus sebagai kusuma bangsa. Diantara awak kapal yang gugur antara lain Kapten Memet dan Kapten Wiratno. Baru setelah itu, Bung Karno membentuk Komando Mandala yang berpusat di Makassar yang dipimpin oleh Mayjen Soeharto. Sesuai pesan Yos Sudarso akhirnya pertempuran berlanjut hingga penyerahan Irian Barat ke Indonesia.(dispenlantamal v|ra)

Bagikan

Baca Juga