oleh

IPSI Sukoharjo Berbenah: Prestasi Jalan, Konflik Perguruan Jadi Pekerjaan Rumah

SUKOHARJO – Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Sukoharjo memulai penyusunan struktur kepengurusan periode 2025–2029 di tengah tantangan ganda: menjaga prestasi olahraga sekaligus mereduksi konflik sosial yang selama ini kerap melekat pada dinamika perguruan pencak silat.

Langkah awal itu ditandai dengan rapat Tim Formatur IPSI Kabupaten Sukoharjo yang digelar Rabu (31/12/2025) di Gedung Menara Wijaya, Sukoharjo. Rapat dipimpin Ketua Tim Formatur Marjono, ST, MT, MM, dan dihadiri perwakilan 21 perguruan pencak silat yang berada di bawah naungan IPSI.

Dalam forum tersebut, Marjono secara terbuka mengungkap persoalan mendasar yang dihadapi IPSI Sukoharjo. Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) serta kepolisian, sekitar *60 persen kasus gesekan sosial di Sukoharjo memiliki keterkaitan dengan aktivitas perguruan pencak silat*.

“Ini fakta yang harus kita akui bersama. Pertumbuhan pencak silat di Sukoharjo sangat pesat, tetapi tidak sepenuhnya diikuti dengan kedewasaan organisasi dan penguatan karakter,” kata Marjono.

Ia menyebut, dari total 21 perguruan yang aktif, terdapat beberapa yang secara berulang tercatat terlibat konflik horizontal. Kondisi ini, menurutnya, menempatkan IPSI tidak hanya sebagai organisasi olahraga, tetapi juga aktor penting dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

Marjono menegaskan, kepengurusan IPSI ke depan tidak bisa lagi hanya bertumpu pada agenda kejuaraan dan perolehan medali. Pembinaan karakter, penguatan komunikasi lintas perguruan, serta koordinasi dengan aparat keamanan harus menjadi bagian dari desain besar organisasi.

“Kamtibmas bukan urusan aparat semata. Ini juga tanggung jawab IPSI sebagai induk organisasi pencak silat,” ujarnya.

Antara Prestasi dan Fungsi Sosial

Di sisi lain, IPSI Sukoharjo menilai pencak silat tetap memiliki posisi strategis dalam pembangunan sumber daya manusia daerah. Nilai-nilai kedisiplinan, sportivitas, tanggung jawab, dan integritas yang melekat dalam pencak silat dinilai sejalan dengan misi Pemerintah Kabupaten Sukoharjo dalam meningkatkan kualitas SDM yang berkarakter.

Menurut Marjono, pencak silat dapat menjadi instrumen pembinaan generasi muda di tengah pesatnya perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan. Namun, potensi tersebut akan kehilangan makna jika tidak disertai tata kelola organisasi yang kuat dan berwibawa.

Pandangan serupa disampaikan Ketua IPSI Kabupaten Sukoharjo periode 2021–2025, H. Wiyono, SH, MM, M.Kn. Ia mengingatkan agar kepengurusan IPSI tidak terjebak pada ego perguruan.

“Kalau sudah masuk kepengurusan, yang dibawa adalah nama IPSI, bukan identitas perguruan. Pengurus itu pengabdian, bukan jabatan,” ujar Wiyono.

Ia juga menilai selama ini IPSI cenderung menempatkan prestasi sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan, sementara fungsi sosial dan persaudaraan antarpesilat belum terkelola secara sistematis.

Agenda Organisasi dan Ujian Konsistensi

Usai rapat formatur, IPSI Sukoharjo akan menyampaikan susunan kepengurusan ke KONI Sukoharjo dan IPSI Jawa Tengah, dilanjutkan pelantikan serta Rapat Kerja Cabang (Rakercab). Sejumlah agenda olahraga juga menanti, termasuk persiapan atlet menuju Pekan Olahraga Provinsi Jawa Tengah 2026 di Semarang Raya, di mana Sukoharjo telah meloloskan beberapa atlet.

Selain agenda prestasi, IPSI merencanakan peningkatan kapasitas pelatih dan wasit, serta penyelenggaraan turnamen terbuka atau festival pencak silat pada pertengahan 2026.

Namun, sebagaimana disampaikan Marjono, ujian utama kepengurusan baru bukan hanya terletak pada program, melainkan pada konsistensi menjalankannya.

“Prestasi bisa dihitung dengan medali. Tapi keberhasilan menurunkan konflik hanya bisa diukur dari situasi yang lebih tenang dan dewasa di lapangan,” kata Marjono.

Menjelang pergantian tahun, IPSI Sukoharjo juga mengimbau seluruh perguruan untuk menjaga kondusivitas wilayah. Ajakan tersebut menegaskan kembali posisi IPSI sebagai organisasi yang tidak hanya bertanggung jawab pada arena pertandingan, tetapi juga pada ruang sosial yang lebih luas.

(Kontributor: Widyo)

Bagikan