oleh

Pikulan Bambu Menolak Punah, Semangkuk Bubur Kacang Hijau dan Perjuangan Bang Jali

Depok – Di tengah menjamurnya aneka makanan modern dan tren kuliner kekinian, bubur kacang hijau tetap bertahan sebagai salah satu sajian tradisional yang tak lekang oleh waktu. Hidangan sederhana berbahan dasar kacang hijau, santan, gula merah, dan jahe ini masih menjadi favorit masyarakat dari berbagai kalangan.Senin (20/4/2026)

Salah satu sosok yang menjaga eksistensi kuliner tradisional tersebut adalah Bang Jali, yang memiliki nama asli Suwandi, seorang perantau asal Kota Brebes, Jawa Tengah. Dengan penuh ketekunan, ia telah menekuni usaha berjualan bubur kacang hijau selama lebih dari 30 tahun.

Ciri khas Bang Jali yang begitu melekat di tengah masyarakat adalah cara berjualannya yang masih menggunakan pikulan hingga saat ini. Di tengah era modern dengan beragam sarana usaha yang serba praktis, Bang Jali tetap setia memikul dagangannya menyusuri jalan dan permukiman warga, menghadirkan nuansa tradisional yang kini semakin jarang ditemui.

Setiap harinya, Bang Jali berjualan dengan pikulannya menyusuri Jalan Raya KSU, Kota Depok, untuk menyambangi para pelanggan setianya. Kehadirannya kerap dinantikan warga yang sudah mengenal cita rasa bubur kacang hijau racikannya sejak lama. Dengan langkah sederhana dan penuh semangat, Bang Jali menjadi pemandangan khas yang akrab di kawasan tersebut.

Tak hanya itu, sajian bubur kacang hijau racikan Bang Jali juga memiliki keistimewaan dengan tambahan ketan hitam yang membuat cita rasanya semakin kaya. Perpaduan lembutnya kacang hijau dengan tekstur pulen ketan hitam menghadirkan sensasi tersendiri, ditambah guyuran santan gurih yang membuat pelanggan selalu ketagihan.

Di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil akibat imbas konflik global dan naik turunnya harga kebutuhan pokok, Bang Jali terus berjuang mempertahankan usahanya. Dengan semangat dan kerja keras, ia tetap berjualan setiap hari demi memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus melayani pelanggan setia yang selalu menantikan kehadirannya.

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pelaku usaha mikro tradisional seperti Bang Jali membutuhkan perhatian lebih serius. Pemerintah Kota Depok seyogyanya dapat mengulurkan tangan melalui program khusus pengembangan usaha kecil, seperti bantuan permodalan, pelatihan usaha, pendampingan pemasaran, hingga penyediaan fasilitas usaha yang layak agar pedagang tradisional mampu naik kelas dan tetap bertahan di tengah persaingan zaman.

Bagi warga sekitar, Bang Jali bukan sekadar pedagang, melainkan bagian dari perjalanan waktu yang menghadirkan cita rasa khas sejak puluhan tahun silam. Racikan bubur kacang hijau buatannya dikenal memiliki rasa manis yang pas, tekstur lembut, serta aroma santan dan jahe yang menggugah selera.

Bang Jali mengaku memilih bertahan di tengah persaingan kuliner modern karena kecintaannya terhadap usaha yang telah digeluti sejak muda. Baginya, bubur kacang hijau bukan hanya makanan, tetapi warisan rasa yang harus dijaga agar tetap dikenal generasi berikutnya.

Tak hanya lezat, bubur kacang hijau yang dipadukan dengan ketan hitam juga kaya manfaat. Kacang hijau mengandung protein nabati, serat, vitamin, dan mineral, sementara ketan hitam dikenal memiliki kandungan antioksidan yang baik bagi tubuh. Karena itu, sajian ini tetap diminati sebagai makanan tradisional yang menyehatkan dan mengenyangkan.

Keberadaan Bang Jali menjadi bukti bahwa ketulusan, konsistensi, dan kualitas rasa mampu membuat usaha tradisional tetap bertahan. Di tengah perubahan zaman dan tekanan ekonomi global, bubur kacang hijau racikan Suwandi, perantau asal Brebes, Jawa Tengah, itu terus hadir dan dicintai pelanggan lintas generasi.

(Pewarta : Arif)

Bagikan