oleh

Bunga Rampai Lintas Disiplin UPNVJ Bedah Program Makan Bergizi Gratis dari Hukum Hingga Ekonomi

Damera Press bersama LPPM UPNVJ Press menerbitkan buku Kondisi Sosial atas Praktik MBG Antara Mitos Medsos dan Realitas.

Jakarta — 8 Oktober 2026. Damera Press bersama LPPM UPNVJ Press menerbitkan buku Kondisi Sosial atas Praktik MBG: Antara Mitos Medsos dan Realitas (edisi pertama, September 2026). Buku ini hadir sebagai salah satu bunga rampai akademik awal yang mengkaji Program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara lintas disiplin. Para penulisnya, sebagian besar akademisi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, menguji berbagai anggapan yang beredar di media sosial dengan data dan analisis ilmiah.

Kekuatan buku ini terletak pada keragaman sudut pandangnya. Diani Sadiawati dan Edward Benedictus Roring menelaah implikasi regulasi yang menyusul setelah program berjalan. Purwanto Widodo memotret persepsi siswa dan guru di Jakarta dan Bekasi, sedangkan Dr. Alfatih S. Manggabarani merekam digitalisasi pelaksanaan MBG melalui siklus PDCA. Dr. Fachru Nofrian menganalisis inflasi sebelum dan sesudah MBG, dan Prof. Dianwicaksih Arieftiara mengaitkan MBG dengan ekonomi sirkular sebagai bentuk bela negara. Buku ini juga memuat artikel lepas Rémy Herrera, peneliti CNRS Prancis, tentang ketahanan Kuba menghadapi blokade.

Salah satu bab yang menonjol ditulis Dr. Fachru Nofrian, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPN Veteran Jakarta sekaligus Sekretaris Jenderal Lembaga Penelitian Pekerja Indonesia (LPPI). Dalam bab “Inflasi dengan dan tanpa Program Makan Bergizi Gratis di Indonesia Periode 2023-2025”, ia membaca MBG sebagai program ekonomi berskala besar yang menambah permintaan agregat dan pendapatan. Temuan awalnya menunjukkan harga bahan pangan cenderung lebih stabil seiring berjalannya program. Ia juga berargumen bahwa pendekatan universal lebih tepat, karena program yang disasar berdasarkan data kerap meleset dari sasarannya.

“MBG tidak bisa dinilai hanya dari besarnya anggaran. Ini investasi jangka panjang yang menggerakkan permintaan, dari petani, pemasok, hingga pekerja dapur di daerah,” ujar Fachru. Sebagai ekonom yang juga aktif di lembaga penelitian perburuhan Indonesia, ia menilai dampak MBG terhadap lapangan kerja dan daya beli pekerja perlu terus diteliti. Ia sendiri menegaskan bahwa temuan inflasinya masih perlu diuji lebih lanjut dengan analisis ekonometrik.

Buku ini tidak sekadar membela program. Bab hukum mendorong agar program berskala nasional dirancang dengan kerangka regulasi lengkap sejak awal, termasuk standar keamanan pangan, pembagian peran antarlembaga, dan mekanisme pemulihan. Bab persepsi mencatat keluhan guru soal mutu makanan dan distribusi, sementara bab digitalisasi mengakui kesenjangan infrastruktur antardaerah. Para penulis menyebut karya ini sebagai penelitian awal yang terbuka untuk disempurnakan, sehingga layak menjadi pijakan diskusi publik yang lebih jernih tentang MBG.

Kehadiran buku ini terasa relevan di tengah riuhnya perdebatan publik tentang MBG. Kasus keracunan makanan yang dilaporkan dari berbagai daerah sempat memicu gelombang kritik di media sosial, dan tidak jarang fakta bercampur dengan kabar yang belum terverifikasi. Dalam situasi seperti itu, buku ini menawarkan pembacaan yang lebih tenang. Kritik publik ditempatkan sebagai masukan yang sah, tetapi diuji dengan data, sehingga perbaikan kebijakan tidak hanya mengikuti apa yang sedang viral.

Karena itu, buku ini menarik untuk didiskusikan lebih luas oleh kalangan akademisi, pengambil kebijakan, pelaksana di lapangan, dan masyarakat umum. Dari diskusi semacam itu diharapkan lahir kajian lanjutan yang lebih komprehensif, misalnya dengan sampel yang lebih besar, cakupan wilayah yang lebih luas, dan uji ekonometrik yang lebih ketat. Program sebesar MBG membutuhkan dukungan kajian ilmiah yang berkelanjutan agar negara dapat melayani rakyatnya dengan lebih baik. Informasi pemesanan dapat diperoleh melalui [email protected] atau www.damerapress.co.id.*

(Kontributor : Novian)

Bagikan