
Malang – Berawal dari mengikuti lomba-lomba online saat pandemi Covid-19, Janata Lavanya Leticia Zulkarnain, atau Vanya, menemukan jalan untuk mengembangkan keberanian dan bakatnya di dunia dakwah. Sejak kelas 2 SD, Vanya mulai berani tampil dan menyampaikan pesan keagamaan di depan publik.
Kisah dai cilik tersebut dibagikan dalam podcast KSK Indonesia di Malang Creative Center (MCC), Minggu (13/9/2026). Vanya hadir didampingi ayahnya, Husni Zulkarnain, M.Pd, Kepala Sekolah SD Islam Aswaja sekaligus dosen ITSK Kedokteran.
“Awalnya ikut lomba-lomba online saat Covid-19,” tutur Vanya.
Dari pengalaman mengikuti berbagai perlombaan daring, kepercayaan diri Vanya terus tumbuh. Bahkan, ketika mendapat kesempatan berdakwah di tingkat nasional, ia mengaku sempat gugup. Untuk mengatasinya, Vanya membiasakan diri mengucapkan Bismillah sebelum naik panggung.

Menurut Vanya, tantangan terbesar menjadi dai cilik adalah menjaga perhatian penonton agar tidak bosan. Karena itu, ia mengemas dakwah secara komunikatif dengan sesekali bercanda dan mengajak penonton menjawab pertanyaan.
Kesibukan berdakwah tidak membuat Vanya mengabaikan pendidikan. Ia berusaha membagi waktu antara sekolah, keluarga, belajar, bermain, dan dakwah. Vanya juga menjaga waktu istirahat dengan membiasakan tidur sebelum pukul 21.00 WIB.
Setiap Rabu, ia memiliki jadwal rutin di RRI yang dilaksanakan setelah pulang sekolah. Di luar kegiatan dakwah, Vanya mengikuti les qoriah dan gemar membaca.
Bagi Vanya, media sosial juga memiliki peran penting sebagai sarana dakwah. Platform digital dapat digunakan untuk menyampaikan pesan positif dan nilai-nilai kehidupan sehari-hari kepada generasi muda.
Ia pun memilih menyikapi komentar negatif sebagai kritikan yang membangun.
Dalam perjalanan dakwahnya, Vanya menyebut ayahnya sebagai sosok yang paling berpengaruh sekaligus menjadi inspirasinya.
Husni Zulkarnain menilai dukungan orang tua sangat penting dalam mengembangkan bakat anak.“Terus support anak-anak,” pesan Husni kepada para orang tua.

Menurutnya, anak perlu diberikan kesempatan untuk belajar, mencoba, berlatih, dan mengembangkan potensi dengan tetap mendapatkan pendampingan keluarga.
Meski dikenal sebagai dai cilik, Vanya memiliki cita-cita menjadi dokter. Dakwah baginya menjadi ruang untuk belajar berkomunikasi, membangun kepercayaan diri, dan berbagi kebaikan.
Kepada anak-anak dan Gen Z di Indonesia, Vanya berpesan agar mematuhi nasihat orang tua. Sementara bagi anak-anak yang masih malu untuk berdakwah, ia berpesan sederhana:
“Jangan pernah lelah untuk terus berlatih.”
Podcast KSK Indonesia tersebut turut mendapat dukungan MZK Institute, SMSI Kabupaten Bondowoso, serta sejumlah media online. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan dan memperluas jangkauan konten edukatif serta inspiratif bagi masyarakat.
Perjalanan Vanya menunjukkan bahwa, bakat anak dapat tumbuh dari sebuah kesempatan sederhana. Dari lomba online di masa pandemi, ia kini berani berdakwah, tetap disiplin menjalani pendidikan, dan terus mengejar cita-citanya.
Bagi Vanya, dakwah, pendidikan, dan cita-cita dapat berjalan bersama selama ada kemauan untuk belajar, keberanian untuk berlatih, serta dukungan keluarga. (bill)

























